Dianggap Bikin Gaduh Gara-gara Banser Nyanyi Saat Sa’i, Begini Jawaban Ketua Ansor

Diposting pada

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Quomas (Gus Yaqut) memberikan penjelasan terkait sejumlah Banser NU yang menjadi jemaah umrah melantunkan mars ‘Yaa Lal Wathan’ saat melakukan ibadah sa’i di Masjidil Haram beberapa waktu lalu.

Gus Yaqut menjelaskan bahwa lantunan mars ‘Yaa Lal Wathan’ merupakan spontanitas yang muncul dari anggota Banser NU saat berjalan bersama-sama.

“Jadi, syair Yaa Lal Wathan yang dikumandangkan Banser di Mas’a (tempat sa’i) itu adalah murni spontanitas. Spontanitas yang muncul dari kebiasaan yang selama ini terus dilakukan oleh sahabat-sahabat Banser di Tanah Air,” kata Gus Yaqut seperti dilansir kumparan, Selasa (27/2).

Gus Yaqut menerangkan bahwa lantunan mars ‘Yaa Lal Wathan’ sebagai rasa cinta tanah air para Banser yang prihatin dengan situasi Indonesia.

“Mereka perhatian atas situasi yang terus dirasakan mengancam persatuan bangsa. Ketika sa’i itu, ada ruang kosong sekitar 20 meter menjelang bukit marwa. Di situlah spontanitas muncul. Sekali lagi, karena semata-semata kecintaan kepada Tanah Air. Jadi sama sekali tidak ada muatan politis,” jelas Gus Yaqut.

Namun, Gus Yaqut tidak menduga bahwa aksi spontanitas Banser NU saat ibadah sa’i mendapat respons negatif dari Pemerintah Arab Saudi.

“Nah, jika apa yang muncul dari spontanitas itu dianggap mengganggu hubungan diplomatik Indonesia dan Arab Saudi tentu kami tidak pernah menduga akan sampai segitu,” lanjutnya.

Gus Yaqut menjelaskan, pada saat Banser NU melantunkan mars ‘Yaa Lal Wathan’ para askar (petugas keamanan) justru menyaksikannya dengan senyum bahkan sempat ada yang mengambil foto.

“Beberapa askar di sana senyum-senyum dan mengambil foto rombongan. Dan saat itu, tidak ada teguran dari mereka,” terangnya.

Tetapi, kata Gus Yaqut, jika hal tersebut mengganggu hubungan diplomatik kedua negara, tentu pihaknya meminta maaf.

“Ada spirit kebangsaan dan spirit membawa Islam ramah dan rahmah sebagaimana yang dipraktikkan oleh muslim di Indonesia ke seluruh belahan dunia, termasuk di Saudi,” terangnya.

Duta Besar RI di Arab Saudi, Agus Maftuh, telah menerima protes keras dari Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) terkait aksi jemaah Umrah asal Indonesia yang bernyanyi dan berikrar Pancasila ketia Sa’i di Mas’a.

Informasi itu disampaikan CEO AMI Foundation Azzam M Izzulhaq melalui akun Twitter @AzzamIzzulhaq. “1. FYI, Duta Besar Indonesia di Arab Saudi, Agus Maftuh dalam pesannya melalui Pensosbud KBRI telah menerima protes keras dari Pemerintah KSA terkait fenomena ikrar Pancasila dan nyanyian ketika Sa’I,” beber @Azzamizzulhaq.

Loading...

Pada poin pertama, Agus Maftuh, seperti dikutip @AzzamIzzulhaq menjelaskan: “2. Poin Pertama: ‘Sebagai Pelayan Ekspatriat Indonesia (Mughtabirin) di Arab Saudi, Dubes RI, MENYAYANGKAN aksi yang TAK BIASA, di Mas’a (tempat melakukan ibadah Sa’i) yang dilakukan oleh segelintir jamaah Indonesia.”

Sedangkan point keempat: “Aksi di Mas’a tersebut (ikrar Pancasila dan bernyanyi, red) berpotensi untuk mengganggu hubungan diplomatik Indonesia – Arab Saudi yang saat ini berada di masa keemasan.”

Secara khusus, Azzam mengklarifikasi tudingan yang disampaikan sejumlah oknum aktivis NU dan Banser. “Para oknum ini ketika diberitahu bahwa apa yg diperbuatnya adalah keliru malah memutarbalikkan fakta dan men-spin bahwa yang mengingatkan adalah pembenci NU dan Banser. Padahal, mengingatkan para oknum ini adalah menyelamatkan NU, Banser dan hingga umat Islam Indonesia,” tulis @Azzamizzulhaq.

Senada dengan Azzam, pemikir Islam Abdullah Khaidir di akun @abdullahhaidir1 menegaskan: “Ga usahlah mencari-cari pembelaan terhadap mereka yang melantunkan beragam syair dan lagu di luar doa dan zikir kepada Allah saat Sa’i…itu tindakan nyeleneh yang tak boleh terulang lagi!”.

Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah as-Shuaibi menegaskan siapa pun yang menginjakkan kaki di Tanah Suci harus menjaga adab.

“Kami imbau agar para jamaah fokus ibadah dan menjaga etika,” ujar dia dalam jamuan makan malam bersama ulama di Kediaman Kedubes Saudi Jakarta, Selasa (27/2).

Video tersebut menjadi perhatian banyak pihak. Masyarakat dari berbagai kalangan mengomentari dan menyikapi video tersebut dengan beragam.

Aparat Kerajaan Saudi menyayangkan kegiatan jamaah umrah tersebut. Aparat Kerajaan Saudi tidak dapat membiarkan adanya aktivitas seperti itu. Sebabnya, jika satu kegiatan macam tersebut dibiarkan, maka dikhawatirkan semakin meluas dan menimbulkan kegaduhan.

Tanah Suci yang seharusnya tenang untuk beribadah, nantinya menjadi tidak kondusif.

“Kami tidak ingin ada kegaduhan, seperti yang kerap dilakukan kelompok syiah zaman dulu,” kata dia.

Osama menjelaskan dulu Kelompok Syiah Qaramithah menghimpun massa untuk menghancurkan al-Haram. Mereka merobek kiswah Ka’bah dan mencuri Hajar Aswad.

“Bayangkan kegaduhan tersebut. dampaknya begitu besar. Umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang berhaji dan berumrah, ingin mencium Hajar Aswad, tapi tidak ada? 20 tahun batu hitam itu dicuri, hingga akhirnya kini sudah kembali lagi,” kata Osama menceritakan sejarah penghancuran al-Haram.

Kerajaan Saudi mengimbau seluruh elemen umat Islam sama-sama menjaga keutuhan Tanah Suci. Mereka yang sudah mengikhlaskan dirinya untuk melaksanakan Rukun Islam kelima atau mengerjakan sunnah umrah, harus fokus beribadah. Mereka harus menjaga diri dengan berakhlak mulia.

Loading...