Waspadalah, Banyak Orang “Gila” Aniaya Ulama! Pura-pura Gila Atau Memang Benar-benar Gila?

Diposting pada

Dalam hitungan hari saja dua ulama dianiaya oleh orang yang diduga tidak waras. Ada kemiripan pola penyerangan yang menyebabkan kematian dan luka parah ini.

Kesamaan pertama, ulama/ustaz yang menjadi korban penganiayaan itu. Kedua, penyerangan dilakukan oleh orang yang diduga tidak waras alias kemungkinan sakit jiwa. Ketiga, penyerangan dilakukan pada waktu subuh.

Kemiripan pola ini bisa terjadi secara kebetulan, bisa juga memang ada yang membuatnya. Jika ada yang membuat tentu ada tujuan-tujuan atau pesan-pesan yang ingin disampaikan kepada kelompok tertentu. Bisa juga ini bagian dari politik adu domba di tengah panasnya proses politik pilkada serentak khususnya di Jawa Barat.

Pakar forensik menilai semua pertanyaan di atas bisa dijawab dengan mengetahui terlebih dahulu apakah pelaku itu gila atau tidak waras setelah menyerang, atau pelaku sejak sebelum menyerang memang gila. Yang harus diusut, apakah pelaku saat menyerang belum/tidak gila dan baru setelah menyerang baru berubah menjadi tidak waras.

Jika dua hal ini bisa diipastikan maka akan diketahui motif sebetulnya pelaku penyerangan ini. Jika dia tidak gila saat menyerang maka kemungkinan ada pihak lain yang menyuruh melakukan itu.

Kasus pertama terjadi kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Umar Basri (Mama Santiong). Ia menjadi korban penganiayaan usai Shalat Subuh di masjid.

Polisi menangkap pelaku penganiayaan yang kemudian diidentifikasi kemungkinan lemah ingatan. Kini, kondisi Kiai Umar semakin membaik dan pelaku sudah ditahan.

Belum jelas motif penganiayaan terhadap Kiai Umar, tiba-tiba muncul kasus baru yang bahkan menyebabkan meninggalnya

Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto. Ustaz Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/1) pagi.

“Keluarga Besar PW Persis Jabar & Otonom (Peristri, Pemuda, Pemudi, Hima dan Himi), Takziyah atas meninggalnya HR Prawoto, SE, mudah-mudahan Allahuyarham tempatkan di Syurga-Nya,” demikian pernyataan PW Persis di laman /Facebook, Kamis (1/2).

Humas Brigade Persis Komando Pusat Persis menyampaikan, pelaku berinisial AM melakukan pemukulan terhadap korban dengan menggunakan linggis. Dugaan sementara, pelaku mendapat gangguan jiwa. Ia sempat diperiksa kondisinya di Rumah Sakit Jiwa.

Pada Kamis subuh itu ada orang tak dikenal mengamuk di depan rumah Ustaz Prawoto. Ia membawa linggis dan merusak pagar rumah korban.

Ustaz Prawoto saat itu sedang beristirahat di rumah kemudian keluar rumah. Di dalam rumah, ada dua anak Ustaz Prawoto yang masih kecil, yang satu masih balita dan satunya lagi bayi baru lahir.

Tiba-tiba tersangka mengejar Ustaz Prawoto hingga 500 meter dan sempat terjatuh. Orang tak dikenal ini langsung menyerang dengan linggis di tangannya. Ia menyerang di bagian kepala, tangan, dan badan. Pada pukul empat sore, Ustaz Prawoto meninggal dunia.

Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto mengatakan, pelaku penganiaya Ustaz Prawot merupakan pasien Rumah Sakit(RS) Jiwa. “Pelaku tetangga depan rumah almarhum. Pasien RS Jiwa,” kata Agung.

Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Hendro Pandowo mengungkapkan proses hukum terhadap pelaku akan dilakukan secara profesional, transparan. Bahkan, pada setiap tahapan penyidikan akan disampaikan dan dilaporkan kepada pengurus Persis. “Termasuk apakah pelaku akan diperiksa kejiwaannya,” katanya.

Ia mengatakan tersangka saat ini berada di Polrestabes Bandung untuk dilakukan pemeriksaan. Katanya, motivasi pelaku menganiaya korban karena faktor depresi yang dialaminya.

Usut tuntas

Ketua PW Persatuan Islam (Persis) Jawa Barat, Iman Setiawan Latief, berharap kasus penganiayaan yang mengakibatkan kematian ini bisa segera terselesaikan secara tepat, benar, dan adil oleh aparat kepolisian. Persis sangat percaya kepolisian akan mampu menangani kasus ini dengan baik dan tepat.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Ustaz Prawoto. “Kami keluarga besar NU turut berduka dan mendoakan mudah-mudahan almarhum meninggal dalam keadaan khusnul khatimah. Pengurus Cabang sudah melakukan takziah, berbelasungkawa, dan menyampaikan doa keprihatinan ke rumah duka,” ujar Helmy, Kamis (1/2) petang.

Ia mengutuk keras segala tindakan kekerasan yang dilakukan oleh siapapun kepada orang tak bersalah, apalagi kepada sosok yang dikenal sebagai tokoh agama. Helmy meminta polisi mengusut tuntas kejadian tersebut serta meningkatkan keamanan.

Pria 45 tahun kelahiran Cirebon itu melihat pola serupa pada penganiayaan yang menimpa KH Umar Basri atau Kiai Emon beberapa waktu lalu. Kiai Emon yang mengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Santiong Bandung diserang oleh pelaku tak dikenal yang berperilaku menyimpang.

Helmy mempercayakan kepada kepolisian untuk mengungkap apakah pelaku benar-benar tidak waras. Penyandang gelar Doctor Honoris Causa UIN Sunan Gunung Djati itu juga mempertanyakan apakah ada indikasi pelaku merupakan bagian dari jaringan kelompok yang hendak memprovokasi dan memecah belah.

Pastikan kejiwaan

Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri menilai perlu dikaji lebih dalam kondisi kejiwaan pelaku penganiayaan yang sebenarnya. Sebab, tidak semua jenis gangguan kejiwaan bisa membuat pelaku kejahatan lolos dari hukum dengan memanfaatkan Pasal 44 KUHP.

Loading...

“Jadi, harus dipastikan seakurat mungkin diagnosis kejiwaan si pelaku. Juga, andai pelaku diketahui punya gangguan kejiwaan, masih perlu dicek kapan ia menderita gangguan tersebut?” kata Reza, Kamis (1/2).

Jika gangguan baru muncul setelah ia melakukan aksi kejahatan, Reza mengatakan perbuatan jahat sesungguhnya ditampilkan saat ia masih waras. Karena itu, ia mengatakan seharusnya tetap ada pertanggungjawaban secara pidana.

“Yang jelas, orang-orang dengan skizofrenia punya kecenderungan lebih tinggi untuk melakukan kekerasan ketimbang populasi umum. Ini punya implikasi penting,” ujarnya.

Reza berharap agar pelaku penganiayaan bukanlah orang pengidap skizofrenia yang dikondisikan untuk menyerang Ustaz Prawoto. Pengidap skizofrenia maupun jenis-jenis abnormalitas psikis lainnya tidak bisa dihukum. Ia menekankan bahwa polisi tetap perlu mencari tahu siapa yang semestinya menjaga orang tersebut.

Sementara itu, Ketua Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI bidang keagamaan Fahira Idris, prihatin dengan adanya peristiwa penganiayaan yang dialami dua ulama di Jawa Barat dalam waktu sepekan. Salah seorang di antaranya bahkan meninggal dunia.

Bahkan peristiwa terakhir meninggalkan duka mendalam karena Ustadz Prawoto meninggal dunia akibat penganiayaan seorang pria pada Kamis (2/1). Sebelumnya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung KH Emon Umar Basyri, pada Sabtu (27/1).

“Saya minta polisi mengusut kedua kasus kriminal ini hingga tuntas,” kata Fahira Idris, Jumat (2/1).

Menurut Fahira, walaupun kedua orang penganiaya ini diduga sakit jiwa tapi proses hukum harus tetap berjalan terlebih sudah jatuh korban nyawa. Lanjut Fahira, pengadilan, berdasarkan fakta-fakta medis dan fakta lainnya di persidangan yang berhak memutuskan apakah para pelaku penganiayaan ini benar-benar sikat jiwa atau tidak.

“Memang jika melihat motif yang hampir sama bahkan pelakunya dua-duanya diduga sakit jiwa atau gila, kita patut waspada, namun tetap harus tenang dan jernih melihat fenomena ini,” tambahnya.

Fahira juga berharap pihak kepolisian melihat fenomena ini sebagai hal yang serius. Kemudian mereka harus segera memetakan persoalan serta mencari solusinya agar para ulama dan ustaz bisa beraktivitas dengan tenang.

Dia meminta aparat keamanan menjaga kondusifitas Jawa Barat menjelang Pilkada serentak pada 27 Juni 2018 mendatang. Lanjut Fahira, peristiwa-peristiwa penganiayaan yang menimpa ulama dan ustaz harus dipandang luas dan dari berbagai sudut pandang. Sehingga tidak mudah menyimpulkan kejadian-kejadian ini hanya peristiwa kriminal biasa.

“Peristiwa sekecil apapun menjelang pilkada serentak ini, apalagi yang berpotensi memancing kemarahan warga, patut dicurigai dan harus diusut tuntas. Saya berharap polisi bergerak cepat mengusut tuntas kedua peristiwa ini,” tutup Fahira.

MUI Prihatin Korban Penganiayaan Ustaz Prawoto

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku prihatian terhadap korban penganiayaan Ustaz Prawoto. Bahkan, kejadian tersebut membuat ustaz dari Persatuan Islam (Persis) menghembuskan nafas terakhir.

Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan mengatakan di era kemajuan teknologi seperti ini masih banyak pihak-pihak provaksi. Padahal, Indonesia merupakan negara yang terkenal suasana damai, nyaman dan tentram.

“Memang sangat prihatian karena di tengah suasana beragama aman, damai, penuh toleran, ternyata ada pihak provaksi,” ujarnya.

Kendati demikian, ia mengimbau masyarakat tidak terpancing akibat kejadian tersebut sehingga menimbulkan suasana ketidaknyamanan hingga perpecahan. Terpenting, ia meminta pihak kepolisian bersikap tegas dan adil untuk bisa menyelesaikan perkaran ini hingga tuntas.

“Jangan terpancing isu menimbulkan suasana ketidaknyaman, ketidakharmonisan. Tindak pencegahan semua pihak supaya suasana kehiduapn aman, damai dan juga diperlukan tindakan penanganan dalam bentuk tindakan hukum yang jelas, sehingga jangan sampai terulang,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Komando Brigade PP Persis, Ustaz Prawoto meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat dianiaya seorang pria pada Kamis (2/1) pagi. Kabar itu telah diumumkan oleh Pimpinan Wilayah Persis Jabar dalam laman Facebook mereka.

“Keluarga Besar PW Persis Jabar & Otonom (Peristri, Pemuda, Pemudi, Hima dan Himi), Takziyah atas meninggalnya HR Prawoto, S.E, mudah-mudahan Allahuyarham tempatkan di Syurga-Nya. Jenazah akan dimakamkan di Burujul, Kabupaten Bandung. (Bidgar Kominfo PW Persia Jabar),” demikian pernyataan PW Persis di laman Facebook, Kamis (1/2).

Saat dikonfirmasi, Ketua Persis Irfan Safrudin membenarkan kabar meninggalnya Ustaz Prawoto. Saat dihubungi, Irfan tengah menuju kediaman Ustaz Prawoto di Blok Sawah, Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kidul, Bandung.

“Betul beliau meninggal. Beliau akan langsung dimakamkan malam ini juga di Taman Kopo Indah, Burujul, Kabupaten Bandung,” kata Irfan, Kamis (1/2).

Pada peristiwa sebelumnya, pekan lalu, pimpinan pondok pesantren Al Hidayah (Santiong), Cicalengka, Kabupaten Bandung, Kiai Umar Basri dianiaya usai shalat Subuh. Aksi pemukulan yang belakangan disebut dilakukan seorang yang tidak waras ini terjadi di ponpes. Pelaku sudah diamankan aparat kepolisian.

Loading...