Yang Kamu Inginkan Belum Tentu Yang Kamu Butuhkan

Diposting pada

Beberapa tahun yang lalu, setelah lulus dari universitas, tidak ada yang lebih saya inginkan daripada bekerja di televisi. Tetapi seingat saya waktu itu, tidak ada lowongan pekerjaan yang berhasil saya temukan. Karena itu, saat ada pembukaan lowongan di sebuah televisi baru, hati saya langsung membuncah. Saya buru-buru mengirim lamaran. Ada banyak doa yang teriring waktu itu. Ada banyak harapan dan impian yang saya titipkan pada selembar surat lamaran itu.

Namun, harapan itu tidak berlangsung sama. Nama saya bahkan tidak tertera untuk mengikuti tahapan berikutnya. Saya ingat perasaan saya waktu itu. Remuk redam. Saya ingat saat itu, saya menangis diam-diam seraya memeluk kucing kuning saya, seakan-akan dunia saya berakhir saat itu juga. Saya tidak mengerti kesalahan saya di mana. Rasanya, saya sudah berjuang semaksimal mungkin dalam ujian tersebut.

Sejalan dengan waktu, saya mulai bisa menata hati. Saya mencari peluang lain, lowongan pekerjaan yang lain. Saya memang tidak pernah mendapatkan pekerjaan di televisi seperti keinginan awal saya, tetapi Allah mengganti dengan yang lain. Saya kemudian mendapatkan pekerjaan tetap sebagai editor di sebuah penerbitan buku nasional.

Lama setelah itu, saya baru menyadari bahwa saya bukanlah tipe yang sesuai untuk bekerja di media televisi. Irama kerjanya, tuntutan kerjanya, semuanya. Bahkan kalau ditanyakan secara logis, mengapa saya ingin bekerja di media televisi, rasanya saya tidak dapat menceritakannya dengan lancar. Mungkin sebenarnya, saya hanya suka ide bekerja di televisi yang waktu itu terkesan keren.

Kita, manusia, seringkali merasa tahu apa yang kita butuhkan. Namun sebenarnya, manusia seringkali payah membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Padahal dulu guru kita menjelaskan perbedaannya secara sederhana. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang tanpanya kita tidak dapat hidup. Keinginan adalah sesuatu yang tidak wajib kita miliki, tanpanya kita masih bisa hidup.

Kita membutuhkan pakaian, tetapi kita tidak cukup hanya sekadar pakaian. Kita menambahkan model tertentu, desain tertentu, dan lain-lain. Kita membutuhkan orang yang mencintai kita apa adanya.

Tetapi kebutuhan sederhana itu tertutupi dengan keinginan lain yang kurang penting: kemolekan fisik, kesamaan hobi, dan lain-lain.

Terlebih-lebih setelah dewasa, batas antara kebutuhan dan keinginan rasanya semakin tipis saja. Makan siang adalah kebutuhan, tetapi makan siang di restoran mewah? Di mata kita, makan siang di restoran mewah bisa menjadi kebutuhan saat terselipkan keinginan untuk meninggalkan kesan bagus pada klien.

Loading...

Handphone sudah menjadi kebutuhan, tetapi kita menambahkan fitur-fitur lain yang wajib ada pada handphone tersebut. Sesuatu yang mungkin kurang signifikan.

Tak heran seringkali kita salah jalan. Kita jatuh cinta pada orang yang salah. Kita bekerja di lingkungan yang kurang sesuai dengan keahlian kita. Kita membeli barang-barang yang sebenarnya tak dibutuhkan. Barang-barang itu kemudian berakhir dalam selimut debu di pojokan rumah.

Kita menempatkan pasak bulat ke dalam lubang kotak.

Begitu juga dalam hal mengejar impian. Kita selalu diajarkan untuk mengejar apa yang kita inginkan. Kisah inspiratif penuh dengan perjuangan orang-orang yang mengejar impian mereka. Namun, apakah impian itu benar-benar yang kita butuhkan? Atau impian itu sebenarnya hanya keinginan yang menyamar sebagai kebutuhan?

Bukan berarti saya hendak menghentikan impian kamu. Ada mimpi-mimpi yang sangat layak untuk dikejar, namun ada juga tidak. Misalnya, kita mati-matian bekerja siang dan malam untuk mengejar karir. Mungkin kita berhasil meraih puncak tertinggi dari karir, namun jika pada akhirnya kita malah mengorbankan waktu pada keluarga yang sebenarnya lebih hakiki bagi kebahagiaan kita, apakah itu layak?

Saya juga termasuk orang yang ngotot jika sudah menginginkan sesuatu. Jika gagal, saya penasaran untuk mencari tahu di mana kesalahan saya dan berusaha untuk memperbaikinya.

Tetapi semakin lama, setelah sekian banyak kegagalan yang saya peroleh, saya berusaha untuk mengembalikan segalanya pada Allah SWT.

Terlalu banyak hal yang tidak dapat saya kendalikan, terlalu sedikit hal yang dapat saya lakukan. Bahkan, satu-satunya hal yang dapat saya kendalikan adalah diri saya sendiri.

Karena itu, saat kita gagal, saat kita tak berhasil mendapatkan apa yang kita raih, entah berupa pekerjaan, proyek, cinta dari orang yang kita taksir, cobalah untuk melihat dari sisi yang lain. Mungkin Allah tengah merencanakan pekerjaan yang lebih sesuai bagi kita. Mungkin kalau dipaksakan, ada sesuatu buruk yang akan terjadi. Mungkin kalau doa kita terkabul, kita malah akan semakin menjauh dari Allah, dari orang-orang yang kita cintai. Tidak ada yang pernah tahu.

و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”(QS. Al Baqarah: 216)

BY DEE

Loading...