Siswa SMK Yang Bunuh Suaminya Hanya Dihukum Penjara 9 Tahun, Wanita Ini Menangis Histeris

Diposting pada

Dua terdakwa pembunuhan sopir taksi online divonis sesuai dengan tuntutan jaksa, yakni 9 dan 10 tahun penjara oleh hakim tunggal Sigit Widodo.

Satu di antara hal yang dianggap memberatkan para terdakwa yakni belum adanya permintaan maaf dari keluarga kedua terdakwa kepada keluarga korban.

Terkait permintaan maaf itu, istri korban Deny Setiawan, Nur Aini, mengatakan hingga saat ini belum ada satupun keluarga korban yang mendatanginya untuk meminta maaf.

Padahal, Aini mengaku dia dan keluarganya membuka pintu untuk keluarga para terdakwa datang meminta maaf.

“Silakan datang ke rumah kami, kami buka lebar pintu untuk minta maaf. Alamat kami jelas, kami selalu di rumah. Silakan datang, kami tidak akan berbuat yang tidak-tidak, apalagi anarkis,” kata Aini seusai sidang.

Meski mengaku membuka pintu maaf, namun Aini merasa kecewa atas putusan hakim tersebut. Sebab, perbuatan kedua terdakwa sangat sadis dan kejam.

“Tapi itu sudah maksimal, saya akan berusaha ikhlas meski jujur kecewa dengan putusan hakim,” ungkapnya.

Dijatuhi Hukuman 9 dan 10 Tahun

Ratusan orang hadir dalam sidang vonis dua terdakwa pembunuhan sopir taksi online, Deny Setiawan, yang digelar terbuka untuk umum.

Puluhan anggota dari Polrestabes Semarang dan Brimob Polda Jateng disiagakan untuk mengamankan jalannya sidang, Selasa (27/2).

Kedua terdakwa yakni IB dan DI divonis berbeda oleh hakim tunggal Sigit Widodo. Terdakwa IB divonis 10 tahun penjara, sedangkan terdakwa DI divonis sembilan tahun penjara.

Keduanya mendengarkan putusan hakim secara terpisah.

Putusan tersebut sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Semarang.

Hal yang dianggap memberatkan untuk terdakwa IB yakni perbuatannya dianggap sadis dan kejam, meresahkan masyarakat, saat memberikan keterangan berbelit-belit dan belum ada permohonan maaf dari terdakwa maupun keluarganya kepada keluarga korban.

“Hal meringankan tidak ada,” kata hakim.

Sedangkan hal memberatkan untuk terdakwa DI perbuatannya sadis dan kejam serta meresahkan masyarakat serta belum adanya permohonan maaf dari terdakwa ke keluarga korban.

“Hal meringankan yakni terdakwa mengakui perbuatannya, kooperatif, dan keluarga terdakwa DI bersedia memberikan bantuan bulanan sebesar Rp 1 juta setiap bulan kepada keluarga korban,” jelasnya.

Atas putusan ini, masing-masing kuasa hukum kedua terdakwa menyatakan masih pikir-pikir.

Hal sama juga disampaikan tim dari Kejari Semarang yang menangani perkara itu. Mereka menyatakan pikir-pikir terhadap putusan hakim tersebut.

Sementara itu, Istri korban Deny Setiawan, Nur Aini, menitikkan air mata mendengar putusan hakim. Nur Aibi duduk sembari menggendong buah hatinya yang masih berumur tiga bulan.

Setelah sidang, kepada awak media Nur Aini mengaku kecewa atas putusan hakim itu. Meski kecewa, namun Aini mengatakan akan berusaha tabah dan menerima putusan itu.

“Sebenarnya kecewa mas, tapi karena ini hukumannya sudah maksimal saya cuma bisa menerima. Saya berusaha ikhlas,” kata Aini berurai air mata.

Aini berharap kejadian serupa tak terjadi lagi.

Sedangkan kuasa hukum terdakwa IB, Windy Arya Dewi, mengatakan, putusan hakim ini telah mengesampingkan Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), karena tidak adanya hal-hal yang meringankan terdakwa.

“Perkara anak wajib dilaksanakan dengan pendekatan restorative justice atau keadilan yang memulihkan. Bukan dendam atau penjeraan,” kata Windy.

Menurut Windy, hukuman penjara merupakan pilihan paling akhir apabila tidak ada cara lain yang lebih baik.

“Apapun yang dilakukan anak, mereka adalah anak anak. Bukan kriminal, bukan penjahat. Berdasarkan pasal 2 UU SPPA, kepentingan terbaik anak, perampasan kemerdekaan dan pemidanaan sebagai upaya akhir. Ini juga diatur dalam konvensi Hak Anak pasal 37 (b),” bebernya.

Kuasa hukum lainnya, Jogi Panggabean, menyatakan pihaknya masih akan berkonsultasi dengan keluarga terdakwa IB terkait upaya hukum banding.

“Kami masih pikir-pikir, ada waktu seminggu untuk berkoordinasi dengan keluarga terdakwa. Kalau seandaibya menerima putusan ini, kami serahkan ke pihak keluarga,” kata Jogi.

Jogi menuturka,n ada hal yang janggal dari putusan hakim. Menurutnya, pledoi yang dibacakan hakim sebagai pertimbangan tidak dibacakan secara utuh.

“Kami juga keberatan pledoi kami dipenggal, seharusnya dibacakan secara detail,” tandasnya.

Jogi menyayangkan respon berlebihan dari kalangan masyarakat khususnya di media sosial yang terkesan memojokkan terdakwa.

“Kasus seperti ini banyak, tapi yang satu ini seperti digejolakkan. Di medsos responnya berlebihan,” ungkapnya.

Kronologi Perampokan dan Pembunuhan

Loading...

Aksi perampokan dan pembunuhan yang dilakukan dua siswa SMK Negeri 5 Semarang, terhadap sopir taksi online Go Car sudah direncanakan. Bahkan pelaku sempat mengajak tiga teman lainnya, namun menolak melakukan perampokan itu.

“Sudah direncanakan sebelumnya oleh kedua pelaku,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, Selasa, 23 Januari 2018.

Abiyoso juga mengatakan pelaku sempat mengajak tiga teman lainnya, namun menolak untuk ikut dalam aksi itu.
Pelaku kemudian memesan taksi online dari Kawasan Lemah Gempal, Semarang Selatan, menuju Sambiroto, Tembalang.

Dari pengakuan pelaku, korban dihabisi nyawanya di Sambiroto, tepatnya di depan Perumahan Citra Grand. Telepon seluler korban, kata Abiyoso, dikubur di sekitar Kanal Banjir Barat dengan ditandai sebuah bambu.

Sementara mobil korban, kata dia, diletakkan di Jalan HOS Cokro Aminoto untuk didiamkan sementara.

“Pelaku sengaja menyembunyikan barang-barang hasil curian sebelum akhirnya diambil,” katanya.

Polisi juga menyita baju dan sepatu dari rumah pelaku yang didapati bercak darah korban. Berdasarkan keterangan pelaku, aksi nekat tersebut dilakukan karena mereka membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah.

Sebelumnya diberitakan, Dua pelaku pembunuhan Deny Setiawan, seorang sopir taksi online di semarang Jawa Tengah, diketahui teman sekelas di SMK Negeri 5 Semarang Jawa Tengah.

Kedua siswa yang masih duduk di Kelas X Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, masing-masing IB (15) warga Barusari, Semarang Selatan dan TA (15) warga Kembang Arum, Semarang Barat.

Deny Setiawan ditemukan tewas diduga jadi korban perampokan di Jalan Cendana Selatan IV, Sambiroto, Tembalang, pada Sabtu malam, 19 Januari 2018.

Saat ditemukan, korban pihak kepolisian tidak menemukan identitas. Identitas korban terungkap usai diautopsi di Rumas Sakit Bhayangkara Semarang.

Mobil Toyota Grand Livina milik warga Margorejo Timur, Kelurahan Kemijen, Semarang Timur tersebut juga dilaporkan hilang sebelum akhirnya ditemukan sehari sesudahnya.

Usai Membunuh Sopir Taksi “Online”, 2 Siswa SMK Masih Masuk Sekolah

Dua siswa SMK yang menjadi tersangka pembunuhan sopir taksi online di Semarang, Jawa Tengah, masih masuk sekolah pasca melakukan tindak pidana.

Dua siswa itu terakhir masuk sekolah, Senin (22/1/2018), sebelum malamnya ditangkap tim gabungan Polrestabes Semarang.

“Senin itu masuk pelajaran. Kebetulan dia terlambat (masuk),” ujar Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMK 5 Semarang Suprihanto, Selasa (23/1/2018).

Ia mengatakan, kedua siswa, IB dan TA, telat masuk sehingga mendapat hukuman disiplin. Keduanya merupakan siswa kelas X jurusan Teknik Komputer dan Jaringan.

Usai dihukum, IB dan TA tetap belajar sebagaimana siswa lainnya. “Ditangani di depan. Dua-duanya mendapat hukuman disiplin,” tambahnya.

Kepala SMK 5 Semarang Suharto menambahkan, pihak sekolah terkejut dengan kejadian penangakapan dua siswanya itu. Menurut dia, kepribadian dua siswanya baik dan tidak ada masalah berat selama di sekolah.

“Rajin sama dengan teman yang lain, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada kasus sebelumnya. Cara berpakaian bagus dan rapi,” papar Suharto.

Dua siswa tersebut kini harus mempertanggungjawabkan perbuatanya. Mereka diduga menghabisi korban Deny Setiawan (25), Sabtu (20/1/2018) sekitar pukul 21.00 WIB. IB dan TA memesan aplikasi taksi online kemudian disambut korban di daerah Lemah Gempal.

Kepada korban, dua pelaku ini minta diantar ke daerah Sambiroto. Sesampainya di daerah itu, pelaku IB membayar ongkos sebesar Rp 22.000.

Ongkos tersebut kurang. Pelaku lainnya, TA, mengarahkan sopir taksi online melaju ke jalan lain untuk mengambil sisa kekurangan uang di tempat saudaranya.

Naas, di arah lain tersebut atau di Jalan Cendana Selatan Sambiroto, korban dihabisi. Polisi menduga motif pembunuhan murni dilakukan untuk merampas kekayaan korban.

Penulis : Kontributor Semarang, Nazar Nurdin

Loading...