Penghasilan Rp 20 Ribu Per Hari Tapi Bisa Naik Haji, Ini 4 Kisah Inspiratif Tukang Becak Naik Haji

Diposting pada

Bisa mengunjungi Tanah Suci Mekah tentu merupakan harapan terbesar bagi seluruh umat Muslim di dunia.

Tak terkecuali bagi 4 tukang becak yang kisahnya ada di bawah ini.

Biaya naik haji yang mencapai puluhan juta rupiah, jika dipikir-pikir memang cukup berat dan nyaris mustahil dicapai dengan penghasilan sehari-hari mereka.

Namun, Allah akan mengabulkan doa-doa hambaNya yang dipanjatkan dengan niat tulus dan membantu mereka agar harapannya terkabul.

1. Maksum, Menabung 21 tahun untuk biaya naik haji

“Mustahil”, begitu yang dipikirkan Maksum saat terlintas keinginannya menunaikan ibadah haji.

Apalagi penghasilannya hanya berkisar Rp20 ribu per hari.

Tukang becak yang kerap mangkal di depan ITC Surabaya itu awalnya tidak yakin keinginannya akan terwujud.

Namun pada tahun 1996, setelah istrinya meninggal, Maksum bertekad harus mulai menabung untuk naik haji.

Dan sejak saat itu, Maksum mengayuh becaknya lebih rajin dari sebelumnya.

Setoran pertamanya ke bank kala itu Rp 800 ribu dan dia selalu menabung setiap bulan.

Baru tahun 2010, Maksum membuka rekening Ongkos Naik Haji (ONH) dan mulai mendaftarkan namanya sebagai jemaah haji Indonesia.

“Tidak hanya bekerja saja, tapi juga berdoa,” ungkap Maksum.

Selama belasan tahun, Maksum menyisihkan pendapatan kecilnya ke rekening tabungan haji.

Niat tulusnya terjawab saat dia akhirnya berhasil terdaftar sebagai anggota kloter 6 jamaah haji yang diberangkatkan melalui Surabaya tahun 2017 lalu.

Maksum tak henti-hentinya bersyukur karena di usianya yang kala itu 79 tahun, dia berhasil mewujudkan mimpinya.

2. Raswan, Tukang Becak Asal Cilacap Naik Haji

Raswan warga RT 01 RW 10 Desa Karangjati Kecamatan Sampang mendapat kesempatan naik haji

Raspan sehari-harinya jadi pengayuh becak.

Ia tergabung dalam Kloter 45 melalui Embarkasi Solo pada 9 Agustus 2017.

Lantas bagaimana kisahnya menabung hingga bisa naik haji?

Raswan menuturkan, sebelum menjadi penarik becak, Raswan bekerja menjadi kuli bangunan.

Sejak awal bekerja dan berumah tangga, Ia sudah berniat melaksanakan ibadah haji Rawan hanya bertahan lima tahun menjadi kuli bangunan.

Ia mengaku, tenaganya tidak kuat lagi menjadi kuli aduk sehingga memutuskan berganti profesi.

“Dulu saya dibayar 20 ribu waktu jadi kuli aduk. Akhirnya berhenti lima tahun kemudian karena tenaga sudah tidak kuat,” ungkapnya.

Penghasilan selama menajadi kuli aduk, saat itu hanya mampu mencukupi kebutuhan sehari hari.

Meski demikan, Raswan bisa menyisihkan setengah dari upah harian yang didapatkannya.

Setengahnya lagi, dia serahkan ke istri untuk keperluan makan.

Kebiasaan tersebut, berlanjut hingga dia bekerja sebagai pengayuh becak.

Dalam sehari, Raswan rata rata bisa mendapatkan uang sedikitnya Rp 50.000.

Loading...

“Saya buka rekening dan setengahnya (Rp 25 Ribu) lagi saya berikan untuk istri dan anak. Saya terbiasa prihatin, makan apa saja tidak mesti enak yang penting terpenuhi. Yang penting lagi, kedua anak dan istri saya makan,” ungkapnya.

Pola hidup hemat ini juga Raswan ajarkan kepada kedua anaknya. Dengan keterbatasan, justru menjadikan anak Raswan pribadi yang mandiri.

“Anak saya ajarkan sederhana dan mandiri. Dia sekarang sekolah SMA dan sudah bisa mendapatkan penghasilan sendiri dengan berjualan baju online,” tuturnya.

“Saya hanya berharap, dengan keikhlasan dan penuh dengan perjuangan ini, akan menjadi Haji yang Mabrur bersama istri saya. Diberikan keselamatan hingga kembali nanti ke tanah air,” ujarnya.

3. Mashuri, menabung selama 40 tahun untuk biaya naik haji

Pasangan suami istri asal Grobogan, Jawa Tengah, Mashuri (62 tahun) dan Siti Patimah (59 tahun) menyisihkan uang hasil menarik becak selama 40 tahun.

Sejak masih muda, mereka memang punya cita-cita harus bisa pergi ke Tanah Suci untuk beribadah haji.

Mashuri berusaha mewujudkan janji serta mimpinya bersama istri tercinta.

Mashuri sadar, sebagai tukang becak, dia tak punya banyak uang untuk biaya naik haji berdua.

Mashuri mencari cara agar uangnya bisa bertambah dengan cepat.

Bapak 4 anak ini awalnya menabung uang hasil menarik becak, lalu digunakan untuk beternak sapi.

Mashuri dan Siti merawat sapi-sapinya dengan penuh perhatian dan memperlakukan hewan ternaknya dengan baik.

Setelah beranak pinak, Mashuri menjual 6 ekor sapinya untuk ongkos haji bersama istri.

Mashuri dan Siti Patimah akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya. Mereka akan berangkat ke Mekah pada 7 Agustus 2018 ini melalui Embarkasi Donohudan, Solo.

4. Santuso, menabung selama 10 tahun untuk biaya haji

Santuso (55 tahun), warga Gili Ketapang, Probolinggo ini tak pernah menyangka dia akan bisa melaksanakan ibadah haji tahun 2018 ini.

Sehari-hari, kerjanya hanya sebagai tukang becak yang mengangkut ikan dari dermaga ke rumah nelayan di Gili Ketapang.

Pendapatan hariannya berkisar Rp100 – 150 ribu saja, itu juga harus dikurangi lagi untuk biaya makan dan kebutuhan keluarga sehari-hari.

Sisanya tak banyak, paling Santuso hanya bisa menyisihkan Rp500 -1.000 saja untuk tabungan hajinya.

Selama 10 tahun Santuso menabung sedikit demi sedikit dan disertai pula dengan doa yang tak henti.

“Selain bekerja keras, saya juga selalu sholat. Sholat tahajud juga tidak pernah ketinggalan,” kata Santuso.

Doanya kini terkabul, tahun 2018 ini Santuso akan berangkat haji meski tak ditemani sang istri.

“Sebenarnya saya juga ingin pergi bersama istri. Tapi uangnya tidak cukup. Disyukuri saja, istri saya juga ikhlas,” lanjutnya.

Loading...