Gus Dur Pernah Larang Mahfud MD Jadi Anggota DPR: “Kamu Tak Pandai Berbohong!”

Diposting pada

“Pak Presiden, kementerian pertanahan kan sudah dibubarkan,” katanya.

“Saya tahu itu bubar,” ujar Sang Presiden. “Kamu bukan jadi menteri pertanahan tapi menteri pertahanan.”

Sontak saja ia kaget mendengar ucapan yang keluar dari mulut presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman “Gus Dur” Wahid.

Ia merasa bagai mimpi, tapi lawan bicaranya itu serius mengatakan kabar yang seharusnya membuatnya gembira tersebut.

“Saya tidak mengerti militer, tidak pernah belajar soal tentara,” kata Mohammad Mahfud MD, yang ketika itu sudah menjadi guru besar hukum tata negara di Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

“Kamu kan profesor, belajar 1-2 hari pasti bisa. Kamu datang saja ke Yudhoyono (Menteri Pertambangan dan Energi Susilo Bambang Yudhoyono,). Belajar sama dia. Dia pintar,” ujar Gus Dur.

“Lah bagaimana menteri pertahanan belajar sama Mentamben?” ujar Mahfud.

“Dia akan menjadi Menkopolsoskam (menteri koordinator bidang politik, sosial, dan keamanan). Satu koordinasi dengan Pak Mahfud,” kata Gus Dur.

Mahfud tetap ngeyel. Ia menawar untuk jadi menteri hukum. Gus Dur menolak. “Yusril (Yusril Ihza Mahendra) sudah senang di sana,” katanya.

Kalau gitu, Mahfud mengatakan, ia bersedia menggantikan posisi Marsillam Simanjuntak sebagai sekretaris kabinet. “Saya lebih cocok dia (Marsillam),” ujar Gus Dur.

“Jadi menteri negara urusan HAM (hak asasi manusia) saja karena sekarang saya jadi deputi di sana,” tawar Mahfud lagi.

“Ndak bisa, kementeriannya mau saya bubarkan,” kata Gus Dur.

Mahfud terperangah lagi dengan perkataan itu. Padahal baru dua hari lalu ia diangkat menjadi deputi menteri HAM yang keputusannya ditandatangani oleh Gus Dur.

Bahkan menteri HAM kala itu Hasballah M Saad tak tahu rencana pembubaran kementeriannya.

“Pak, saya tidak punya latar belakang militer. Kalau hukum, sudahlah saya bantu, Pak Presiden,” lagi-lagi Mahfud mencoba bernegosiasi.

Dan Gus Dur tak kalah ngeyel. Ia tetap punya dalih untuk menguatkan keputusannya. “Saya yang tidak punya latar belakang presiden bisa kok jadi presiden,” katanya berkukuh.

Suasana langsung cair ketika Gus Dur mengatakan hal setengah guyon tersebut.

Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri, yang duduk di samping Mahfud lalu memberi isyarat dengan menepuk-nepuk pahanya. Mahfud kemudian mafhum untuk menghentikan argumentasinya. Ia pun menjadi menteri pertahanan.

Kejadian yang terjadi pada Agustus 2000 itu masih membekas dalam ingatan Mahfud. Di sebuah rumah di Jalan Irian, Menteng, Jakarta Pusat, tempat Gus Dur menerima para tamu di luar jam kerja, kisah tersebut terjadi tanpa pernah ia duga.

Tiga hari sebelumnya, ia menerima telpon dari Menteri Sekretaris Negara Djohan Effendi. Pesan di telpon itu jelas. “Gus Dur mau bertemu Bapak. Sabtu ini Bapak ditunggu di Istana jam delapan pagi,” kata Djohan.

Esok paginya, Mahfud segera berangkat dari Yogyakarta ke Jakarta dengan pesawat pukul enam pagi. Krisis moneter kala itu membuat kursi pesawat banyak yang kosong. Mahfud bisa langsung datang ke bandar udara dan membeli tiket.

Sampai di Jakarta, ia langsung balik lagi ke Yogyakarta karena ternyata Gus Dur berada di Kota Gudeg tersebut. “Ia mau nonton wayang dengan rektor Universitas Gajah Mada (Ichlasul Amal) dan Sri Sultan,” ujar laki-laki kelahiran Sampang, 13 Mei 1957 itu.

Pesan singkat dan telpon ke ajudan Gus Dur tak mendapat respons. Mahfud kembali ke rumahnya yang tak jauh dari Bandara Adi Sucipto dengan rasa penasaran.

Ia menduga Sang Presiden akan memberikannya sebuah jabatan. Tapi menjadi menteri tak pernah terlintas dalam benaknya. Ia justru menduga menjadi Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional.

Senin pagi ia kembali ke Jakarta untuk menemui Alwi Shihab, atas saran temannya yang seorang anggota DPR, Tari Siwi Utami.

Sebenarnya ia ke Jakarta juga untuk menghadiri acara pernikahan anak teman satu kampusnya di UII, Henry Yosodiningrat.

“Ente dipanggil Gus Dur?” tanya Alwi di kantor Kementerian Luar Negeri, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Mahfud mengiyakan.

Lalu, karena tak punya kartu nama, Mahfud menuliskan namanya di secarik kertas.

“Gini, ente mungkin jadi menteri. Mau jadi menteri apa?” kata Alwi.

“Saya ini guru besar, bisa jadi menteri pendidikan. Saya juga ahli hukum, bisa menteri kehakiman juga,” ujar Mahfud. Alwi kemudian mengatakan untuk menunggu kabar dari Gus Dur.

Pembicaraan mereka selesai sampai di situ. Mahfud lalu pergi ke acara mantenan kawannya. Setelah itu ia kembali ke Yogyakarta.

Malamnya, telpon Mahfud berdering. Tari menghubunginya dan memintanya kembali ke Jakarta karena Gus Dur mau bertemu. “Loh, orang kalau dipanggil Presiden ya harus tunggu, pasti dapat jabatan,” kata lawan bicaranya itu.

Esok paginya, Mahfud kembali ke Jakarta untuk ketiga kalinya dalam empat hari. Sekitar pukul delapan malam, ia akhirnya bertemu Gus Dur dan perdebatan soal jabatan menteri pertahanan itu pun terjadi.

Kepada Yusro M Santoso, Fajar WH, Sorta Tobing, dan fotografer Bismo Agung, Mahfud bercerita soal kebersamaannya bersama Gus Dur. Ia juga sempat berkisah soal jabatan yang paling berkesan sepanjang kariernya.

Kami berbincang dengannya selama lebih dari sejam pada Rabu (26/06/2017) lalu di Kantor MMD Institute, Jalan Dempo nomor 3, Matraman, Jakarta Pusat. Berikut kisahnya.

All The President’s Men

Pengangkatan Mahfud menjadi Menteri Pertahanan tidak mendapat respon positif dari banyak pihak. Kritik terutama tertuju pada latar belakangnya yang berasal dari bidang hukum, tak sesuai dengan jabatan itu.

Apalagi sosok yang ia gantikan pada saat reshuffle kabinet pertama di era Gus Dur tersebut adalah seorang guru besar bidang hubungan internasional, Juwono Sudarsono.

Media tak kalah kejam pada dirinya. Ia dianggap memiliki kedekatan tertentu pada Gus Dur sehingga bisa terpilih menjadi menteri. “Media menyebut kami yang akrab dengan beliau sebagai all the president’s men,” ujarnya.

Padahal komunikasi terakhir Mahfud dengan Gus Dur sebelum peristiwa di Jalan Irian itu terjadi pada 1984. Sejak 1983, ia beberapa kali mengundang Gus Dur untuk memberikan ceramah di kampusnya, UII.

Loading...

Kalau Gus Dur datang, Mahfud yang menjemputnya di bandara. Lalu, ia menemani makan di warung kecil dan mengantarnya ke penginapan kelas melati.

Ia tak menyangka perbuatannya yang tampak sepele itu tak pernah terlupa oleh Gus Dur. Sampai akhirnya, 16 tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam situasi yang jauh berbeda.

Jabatan tersebut ternyata tak bisa ia laksanakan dengan maksimal. Mahfud mengaku hanya mengerjakan hal-hal rutin saja selama setahun menjadi menteri pertahanan. Ia lebih banyak mendampingi Gus Dur.

Saat itu suhu politik sangat gaduh. Gonjang-ganjing, kasak-kusuk, saling ancam kerap terjadi antara Istana Negara dan Gedung Parlemen.

Gus Dur pun banyak menerima tamu yang kadang membawa informasi sumir. Hal tersebut ditanggapi Presiden dengan reaktif.

Satu informasi yang sempat membuat Gus Dur bereaksi adalah soal adanya gerakan untuk menjatuhkan dirinya yang dipimpin oleh Akbar Tanjung dan didanai oleh Fuad Bawazier. “Dia langsung pidato, ada gerakan makar,” kata Mahfud.

Provokasi melalui informasi itu, menurut Mahfud, sangat tidak baik bagi pemerintahan. Musuh-musuh politik Gus Dur semakin menguat dan memanaskan suasana.

Akhirnya, ia bersepakat dengan tiga menteri lainnya yang loyal dengan Gus Dur, yaitu Alwi, Khofifah Indar Parawansa (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan), dan Zarkasih Nur (Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah). Gus Dur harus ditemani dan tidak boleh sembarangan menerima tamu.

Keempatnya berbagi tugas menemani Gus Dur, terutama saat hari masih subuh. Mahfud tak ingat hari apa jatahnya melakukan hal itu. Ia hanya ingat setelah dirinya adalah Khofifah, lalu Alwi, kemudian Zarkasih. “Dari situlah kami jadi dekat,” kata Mahfud.

Loyalitas mereka kemudian semakin teruji ketika para menteri lainnya sudah pasang badan untuk meninggalkan Gus Dur. Ketika itu Gedung Parlemen mengeluarkan ancaman melakukan Sidang Istimewa untuk meminta pertanggungjawaban Presiden.

Di sisi lain, Gus Dur juga menggertak akan mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan parlemen. Kedua pihak saling pamer kekuatan dahsyat. Mahfud menilai Gus Dur kala itu mendapat pengaruh para aktivis LSM (lembaga swadaya masyarakat) untuk melawan DPR.

Sampai akhirnya keduanya mengeluarkan senjata pamungkas masing-masing. Gus Dur tak kuasa menolak desakan untuk lengser. Parlemen kemudian sepakat menunjuk Megawati Soekarnoputri menjadi presiden pada 23 Juli 2001.

Mahfud tak berada di Jakarta pada saat terbitnya dekrit tersebut. Ia berada di kampung halamannya, Madura, Jawa Timur. Tujuannya ke sana untuk menyerahkan surat keputusan presiden yang menetapkan Universitas Madura menjadi perguruan tinggi negeri.

Esok paginya ia baru berjumpa dengan Gus Dur. Dia sedang berbincang-bincang dengan budayawan Emha “Cak Nun” Ainun Nadjib dan istrinya, Novia Kolopaking. “Gus Dur ketawa-ketawa dengan mereka waktu saya datang ke Istana pagi-pagi,” katanya.

Tapi ia tak bisa menutup rasa iba ketika melihat kondisi Istana yang sepi, tak seperti biasanya yang ramai dengan tamu. Gus Dur terlihat tenang-tenang saja. Padahal di sebelahnya ada siaran televisi, para anggota DPR sedang memaki-maki dirinya.

Tak lama setelah Cak Nun dan istrinya pergi, Alwi datang. “Temannya tak ada waktu itu. Tapi hebatnya, dia tak berwajah tegang, seperti biasa saja,” ujar Mahfud.

Tak berada di pemerintahan bukan berarti keduanya tak lagi dekat. Gus Dur memintanya masuk Partai Kebangkitan Bangsa. Mahfud sempat kembali ngeyel karena merasa kariernya di universitas sedang bagus dan tak mau meninggalkan penghasilan tetapnya.

Suatu waktu dalam obrolan, Gus Dur mengatakan bahwa ada empat orang yang ia larang menjadi anggota DPR. Adalah Khofifah Indar Parawansa, AS Hikam, Alwi Shihab, dan Mahfud MD.

“Kenapa Gus? Kami aktif di PKB nantinya kan jadi anggota DPR,” tanya Mahfud.

Dari cerita Mahfud, Gus Dur menganggap DPR tempat orang berbohong.

“Gus Dur bilang, DPR itu tempatnya orang-orang bohong. Kalian tidak pandai berbohong,” ujar Mahfud menirukan ucapan Gus Dur.

Setelah 4,5 tahun di DPR, Mahfud kemudian terpilih sebagai ketua Mahkamah Konstitusi. “Saya merasa mendapat tempat yang cocok di Mahkamah Konstitusi,” ujarnya. Gus Dur juga salah satu orang yang menyokongnya untuk mendapat posisi tersebut.

Saat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud mengatakan, ia mendapat tempat terhormat. Ia tak memiliki atasan dan dapat membuat keputusan yang sesuai dengan pikiran dan hati nuraninya.

Di DPR, ia justru menilai hidupnya paling menderita. Idenya mati. Pikirannya boleh bagus, tapi semua bisa hilang dalam sekejap karena keputusan politik. “Apalagi kalau ketua fraksi sudah memutuskan kebijakan berbeda, pasti kalah kita,” katanya.

“Saya merasa mendapat tempat yang cocok di Mahkamah Konstitusi”

Karier Mahfud sebenarnya termasuk cemerlang dalam bidang eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sedikit orang di Indonesia yang bisa menempati tiga bidang tersebut dengan mulus, tanpa kasus.

Tapi sebenarnya jalan hidup Mahfud sangat jauh dari keinginannya saat kecil. Ia dulu bercita-cita menjadi guru agama, alih-alih dosen hukum, apalagi masuk ke pemerintahan. Lingkungan tempat tinggalnya sangat kental dengan budaya Nahdlatul Ulama.

Dalam buku biografinya Terus Mengalir karangan Rita Triana Budiarti tertulis kehidupan Mahfud saat kecil sebagai anak yang pintar dan saleh. Ayahnya, seorang pegawai negeri, kerap mengajaknya berkunjung ke rumah para kiai.

Tapi Mahfud juga punya jiwa pemberontak. Ketika banyak temannya yang berkutat dengan buku pelajaran, ia memilih membaca buku komik kesukaannya, Kho Ping Hoo.

Ia juga suka menonton sandiwara. Padahal menurut sebagian besar orang Madura kala itu, pertunjukan tersebut dilarang agama karena menampilkan laki-laki yang berpakaian perempuan. Tapi Mahfud malah ikut bermain drama dan mengatur adegan para pemainnya.

Kejadian yang cukup membuatnya trauma adalah ketika sang ayah, Mahmodin, masuk penjara. Penyebabnya, Mahmodin mencoblos Partai Nahdlatul Ulama, alih-alih Partai Golongan Karya, pada pemilihan umum 1971.

Gara-gara peristiwa itu Mahfud jadi kecut hati setiap melihat seragam militer. Tapi garis hidup justru menuntunnya menjadi menteri pertahanan ketika beranjak dewasa. Semua itu tak pernah ia duga sebelumnya.

Loading...