Terbiasa Menyisakan Makanan di Piring? Berarti Selama Ini Anda Telah Memberi Makan Setan

Diposting pada

Ada kebiasaan sebagian masyarakat yang memiriskan saat makan. Tidak sedikit orang yang menyisakan banyak makanan di piringnya. Entah karena sudah kenyang atau mungkin tidak berselera terhadap makanan tersebut. Bolehkah seperti itu?

Agama Islam melalui hadis-hadis Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam telah memberi tuntunan tentang adab atau aturan makan. Jangankan menyisakan banyak makanan seperti itu, sebutir nasi yang tersisa di piring pun, kita disuruh menghabiskannya. Termasuk yang melekat pada jari.

Bukan hanya itu, makanan yang terjatuh pun, diperintahkan untuk dimakan dengan membersihkannya dari kotoran terlebih dahulu. Maka, sangat mengherankan jika ada orang, terutama umat Islam yang bertindak mubazir setiap kali makan. Menumpuk banyak makanan, lalu menyia-nyiakannya begitu saja.

Berikut ini, sejumlah dalil yang membahas tentang adab makan sebagaimana dikutip dari Almanhaj.or.id:

1. Menghabiskan Makanan

Dalam Shahih Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila makan suatu makanan beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, beliau bersabda,

“Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh syaitan!”

Dan beliau memerintahkan kami untuk membersihkan piring (dengan menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada), beliau bersabda, “Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.” (HR. Muslim)

Juga dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian makan, maka jilatlah jari-jarinya karena ia tidak mengetahui di bagian jari yang manakah keberkahan itu berada.” (HR. Muslim)

Dan dalam riwayat lain dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu, “Dan janganlah ia membersihkan tangannya dengan lap, hingga ia menjilat jari-jemarinya.” (HR. Muslim)

Hadits-hadits tersebut mengandung beberapa jenis Sunnah dalam makan yaitu, di antaranya anjuran menjilat jari tangan untuk menjaga keberkahan makanan dan sekaligus membersihkannya, juga anjuran menjilat piring dan makan makanan yang terjatuh setelah membersihkannya dari kotoran yang ada.

Imam an-Nawawi berkata, saat menjelaskan maksud dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”

Loading...

Beliau (Imam an-Nawawi) berkata, “Artinya adalah -wallaahu a’lam- bahwasanya makanan yang disediakan oleh seseorang itu terdapat keberkahan di dalamnya, namun ia tidak mengetahui ada di bagian manakah dari makanannya keberkahan tersebut, apakah pada apa yang telah dimakannya atau ada pada yan tersisa di tangannya atau ada pada sisa-sisa makanan di atas piring atau pada makanan yang jatuh, maka seyogyanya semua kemungkinan tersebut harus dijaga dan diperhatikan agar mendapatkan keberkahan makanan, dan inti dari keberkahan adalah bertambah, tetapnya suatu kebaikan dan menikmatinya, maksudnya adalah -wallaahu a’lam- apa yang ia dapatkan dari makanan tersebut (untuk menghilangkan lapar), terhindar dari penyakit dan menguatkan tubuh untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta hal lainnya.

Al-Khithabi berkata ketika menjelaskan kepada orang-orang yang memandang aib menjilat jari-jemari dan yang lainnya: “Banyak dari orang-orang yang hidupnya selalu bersenang-senang dan bermewah-mewah menganggap bahwa menjilat jari adalah hal yang sangat buruk dan jorok, seolah-olah mereka belum mengetahui bahwa apa yang menempel atau tersisa pada jari-jari dan piring adalah bagian dari keseluruhan makanan yang ia makan, maka apabila seluruh makanan yang ia makan adalah tidak jorok dan tidak buruk, sudah barang tentu makanan yang tersisa tersebut (bagian dari seluruh makanannya) adalah tidak buruk dan tidak jorok pula.”

2. Pahala dari Menakar Makanan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk menakar makanan dan beliau berjanji, dengannya akan didapatkan keberkahan padanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Terdapat suatu riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari al-Miqdam bin Ma’diyakrib Radhiyallahu anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda, “Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi.” (HR. Bukhari)

Menakar hukumnya adalah disunnahkan pada apa yang dikeluarkan seseorang bagi keluarganya. Makna hadits tersebut adalah keluarkanlah makanan tersebut dengan takaran yang diketahui yang akan habis pada waktu yang telah ditentukan. Dan padanya terdapat keberkahan yang Allah berikan pada mud (ukuran dari jenis takaran-pent) masyarakat Madinah, karena do’a Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rahasia dalam takaran tersebut adalah karena dengannya ia dapat mengetahui seberapa banyak yang ia butuhkan dan yang harus ia siapkan. Adapun hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat dan tidak ada sama sekali dalam rakku, sesuatu yang dapat dimakan oleh seorang manusia, kecuali setengah gandum yang berada di rakku, maka saya memakannya hingga lama mencukupiku, aku pun menakarnya, maka gandum itu pun habis.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan adanya anjuran untuk mengambil makanan sesuai dengan kebutuhan sehingga menghalangi kita dari sifat-sifat berlebih-lebihan dan membuang-buang harta atau mubazir.

Loading...